Prolog
Langit begitu gelap, angin tak hentinya bertiup seolah ingin menerbangkan perasaan kacau yang terus mengganggunya. Ia merapatkan jaketnya dan membenakam tangannya yang terkepal kuat kedalam sakunya,menggigil. Seluruh tubuhnya menggigil, bukan karena terpaan angin yang begitu dingin. Itu karena hatinya, yang terus menerus terasa sesak walaupun telah berkali-kali ia menarik napas tapi sama sekali tidak terasa lega didadanya, udara seolah-olah tidak masuk ke paru-parunya hingga terasa nyeri dan sakit.
Sama halnya dengan hatinya sekarang, sakit...
Ia terus berjalan diatas trotoar dengan tatapan kosong dan otaknya yang terus memutar ulang kejadian hari itu. Berusaha menyeret kedua kakinya untuk pulang. Sebuah ingatan tentang hari itu meremas hatinya hingga dia tidak dapat merasakan apapun lagi. Matanya menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang dengan cepat. Begitu cepat semua hal disekitarnya berjalan, tapi tidak dengan dirinya. Klakson yang nyaring terdengar dari dua sisi jalan, lampu-lampu mobil yang menyilaukan.
Jalanan begitu ramai. Ia pasti akan langsung mati jika tertabrak salah satu mobil yang melaju kencang itu. Tewas seketika.
Cukup satu dorongan saja, hanya beberapa langkah saja. Setelah itu semua perasaan kacau itu akan menghilang. Ingatan yang meremukkan hatinya pun akan ikut menghilang, bahkan jika ia beruntung ia dapat melupakan orang itu dari benaknya, dan semua sakit akan sirna.
Dan jauh lebih beruntung jika ia bisa menemui orang itu, orang yang begitu ingin ditemuinya dikehidupannya yang kacau ini. . .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar